Manajemem Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah

MBS Merupakan sebuah paradigma pendidikan yang menjadi jawaban atas kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik yang mengakibatkan ketergantungan terhadap keputusan birokrasi, berdampak pada hilangnya kemandirian sekolah, kurang inisiatif dan minimnya kreativitas layanan pendidikan yang diberikan di sekolah

Upaya meningkatkan kualitas sekolah dengan manajemen sekolah yang efektif dengan melibatkan partisipasi berbagai pihak menjadi wacana yang mengarah pada desentralisasi pendidikan. Konsepsi Bank Dunia pada 1999, menyatakan bahwa bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi di bidang pendidikan yang ditandai dengan adanya otonomi sekolah dan partisipasi masyarakat. Otonomi yang diberikan pada sekolah, memberi keleluasaan sekolah dalam mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta tanggap terhadap kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Selain itu juga masyarakat dituntut berperan aktif untuk memahami, membantu, memantau dan mengontrol pengelolaan pendidikan. Karena itulah sekolah dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi, baik kepada orangtua, masyarakat, maupun pemerintah. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan alternatif dalam mewujudkan pengelolaan sekolah yang berkualitas.

MBS merupakan sebuah paradigma pendidikan yang menjadi jawaban atas kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik yang mengakibatkan ketergantungan terhadap keputusan birokrasi, berdampak pada hilangnya kemandirian sekolah, kurang inisiatif dan minimnya kreativitas layanan pendidikan yang diberikan sekolah. Poin penting yang seharusnya dioptimalkan adalah peran serta masyarakat yang paling dekat bersentuhan dan menggunakan “jasa” pendidikan sekolah terutama orang tua siswa untuk ikut mengambil keputusan, monitoring dan mengevaluasi proses-proses pendidikan, beberapa hal ini lah yang menjadi faktor pendorong dilaksanakan nya MBS di Indonesia, yang tak jauh berbeda dengan yang ungkapkan oleh Agus Dharma, Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas (2003), pada 1988 Negeri Paman Sam, American Association of School administrators, National Association of Elementary School Principals, and National Association of Secondary School Principals, menerbitkan dokumen berjudul school based management, a strategy for better learning. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi .
MBS yang menjadi terobosan baru dalam reformasi pendidikan Indonesia, memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran, kepegawaian, dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan menciptakan keberimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. Keterlibatan semua pihak dalam pengambilan keputusan akan memacu motivasi kinerja guru. Kinerja guru yang semakin baik menjadi salah satu bagian pendukung meningkatnya prestasi belajar murid, bahkan MBS dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi.

Dibeberapa tempat di Indonesia MBS mulai menunjukkan hasil, meskipun belum cukup mememuaskan berbagai pihak tapi setidaknya dari sisi partisipasi masyarakat terhadapa mendidikkan mulai dirasakan seperti di SDN Sawojajar III Malang, seorang dari orang tua siswa yang memberi bantuan secara langsung kepada guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Pak Warno yang merupakan mantan guru di Jakarta International School mengemukakan bahwa ia melakukan ini dengan suka rela berdasarkan ajakan dari pihak sekolah selain itu Dr. Hanif Noer Syahdu, Sps merupakan salah seorang dari orang tua siswa di SDN IV Sawojajar Malang yang membantu secara langsung pembelajaran di dalam klas. Sebagai seorang dokter, Beliau beberapa kali memberikan penyuluhan kesehatan di sekolah. Materi penyuluhan yang diberikan diantaranya tentang pola hidup sehat, cara menggosok gigi yang benar, bahkan sampai pada pemberian imunisasi. Sekolah-sekolah yang telah melaksanakan program MBS dapat menjadi etalase pendidikan yang memberikan inspirasi bagi perkembangan pendidikan. Peningkatan mutu akan terus terwujud meskipun iramanya beragam, ada yang sangat cepat, ada yang sedang, maupun ada yang lambat. Meskipun demikian setiap langkah ke arah peningkatan mutu pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam upaya untuk secara terus-menerus mengubah paradigma lama pembelajaran ke paradigma baru. http://www.mbs-sd.org/

Discussion

No comments for “Manajemen Berbasis Sekolah”

Post a comment